13 Hal Penting Saat Merawat Bayi

*1. Taruh bayi di dada saat lahir*
Menurut Dr. Hardiono Pusponegoro, Sp.A(K), bayi yang baru lahir sebaiknya
segera ditaruh di dada ibu. “Jangan dimandikan dulu,” ujar dokter dari
Klinik Anakku ini. Dalam video yang pernah dipresentasikan oleh konsultan
laktasi, Dr. Utami Roesli, Sp.A(K), ICBLC, bayi akan mencari puting ibu
sesaat setelah lahir dan diletakkan di dada. Pada waktu itu pula, bayi akan
menyedot ASI meski ASI belum keluar. Isapan bayi ini justru akan merangsang
produksi ASI. Bayi yang tidak menyedot ASI dalam 30 menit pertama setelah
lahir, kapasitas menyusunya akan turun.

*2. Tidak membuang ASI pertama yang keluar*
Warna kuning yang keluar dari ASI pertama kali tidak boleh dibuang. ASI yang
disebut kolostrum ini mengandung protein dan zat kekebalan tubuh (antibodi)
yang akan melindungi bayi, sehingga lebih kuat menghadapi penyakit.

*3. Tidak ada ASI basi*
“Tak seperti susu formula, ASI tidak pernah basi,” ujar Dr. Caroline Mulawi,
Sp.A(K). Ibu yang karena sesuatu hal tidak bisa menyusui bayinya dalam
beberapa waktu, tak perlu ragu untuk menyusui bayinya lagi. Kualitas ASI
yang diberikan pada saat itu sama baiknya seperti yang keluar pertama kali.

*4. Bayi yang diberi ASI lebih mudah lapar*
Sifat ASI yang mudah dicerna membuat bayi lebih cepat lapar. Bayi yang
mendapat ASI akan minum lebih sering sekitar 1-3 jam sekali. Bila berat
badan bayi yang diberi ASI terus bertambah, menjadi pertanda bayi sudah
cukup mendapat makanan. Jangan memberikan makanan padat sebelum waktunya,
agar tak menimbulkan sumbatan pada usus yang bisa berakibat fatal. Sistem
pencernaan bayi belum sempurna hingga ia berusia 4 bulan.

*5. Tidak merebus ASI yang disimpan*
Ibu yang bekerja dapat memeras ASI dan menyimpannya dalam botol steril. Setiap
botol ASI itu hendaknya ditulis tanggal dan jam pemerasan. ASI yang disimpan
dalam freezer bisa bertahan antara 2 minggu hingga 4 bulan. Pada suhu kamar
ASI bertahan selama 4-8 jam, sedangkan dalam lemari pendingin bertahan
sekitar 24-48 jam.

Pemberian ASI dilakukan dengan metode first in first out. ASI yang masuk
lemari pendingin atau freezer terlebih dulu, itulah yang harus keluar lebih
dulu. Saat hendak diberikan, ASI jangan dipanaskan dengan pemanas atau
microwave karena zat yang terkandung dalam ASI bisa rusak. Untuk ASI yang
berada dalam lemari pendingin, sebaiknya rendam botol dalam wadah berisi air
hangat sampai ASI tidak terasa dingin lagi. Baru diberikan pada bayi.
Sementara untuk ASI yang disimpan dalam freezer, hendaknya dipindahkan
terlebih dulu ke lemari pendingin hingga mencair. Setelah itu baru
dihangatkan dalam wadah berisi air hangat.

*6. Bayi menangis*
Menangis adalah cara bayi berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya.
Bayi menangis tak melulu karena lapar. Bisa jadi karena popoknya basah
akibat pipis atau buang air besar. Bisa juga karena posisi saat menyusu yang
tidak benar, sehingga tidak memperoleh ASI dalam jumlah yang tepat.

Tangisan bayi, menurut Dr. Caroline dari RS Omni Medical Center, juga bisa
menjadi pertanda ia sakit. Pada 2-3 bulan pertama misalnya, bayi sering
menderita kolik atau sakit perut yang tidak diketahui penyebabnya. “Biasanya
gejala itu berkurang setelah usia tiga bulan,” ujarnya. Bisa pula tangisan
itu karena demam. Kalau itu yang terjadi, segera bawa bayi ke dokter.

Menangis pun dapat menjadi cara bayi menarik perhatian orang lain, terutama
ibu dan ayahnya. Mungkin ia ingin mendapat dekapan dan kasih sayang dari
orangtua. Hendaknya orangtua tidak membiarkan bayi menangis terlalu lama
karena bayi akan menjadi lelah dan kemampuan menyusunya berkurang. Si ibu
juga bisa frustrasi dan kesal, sehingga dapat berakibat buruk bagi
perkembangan psikologis bayi.

Saat bayi menangis, ibu atau ayah bisa menggendong dan menimangnya sambil
bersenandung, menaruhnya di kereta bayi, lalu ajaklah jalan-jalan di luar
kamar, atau putarkan musik lembut. Kalau ibu sedang lelah, minta pengasuh
atau orang lain membantu menggendong bayi. Sebab, semakin kesal dan
frustrasi sang ibu, bayi akan semakin gelisah dan menangis lebih keras.

*7. Timang bayi*
Hingga saat ini masih terdengar persepsi keliru, sehingga muncul saran untuk
tidak sering-sering menggendong bayi. Khawatir nanti “bau tangan” dan bayi
menjadi manja. Hal ini tidak benar. Justru banyak penelitian mengungkapkan,
bayi yang segera mendapat perhatian sesaat setelah menangis, entah dengan
ditimang maupun didekati, kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara
emosional. Ia pun nantinya menjadi orang mandiri serta lebih percaya diri.
Sebaliknya, bayi-bayi yang tidak mendapat perhatian dan dibiarkan menangis
terlalu lama, saat dewasa akan menjadi pribadi yang kurang mandiri, peragu,
atau tidak mempunyai kepercayaan diri yang kuat.

*8. Kompres air hangat*
Memberikan minum lebih sering sangat membantu menurunkan demam ditambah obat
penurun demam. Kompres untuk bayi lebih baik jika dengan air hangat.
Dijelaskan Dr. Caroline, beberapa penelitian menunjukkan, kompres hangat
lebih bermanfaat dalam menurunkan demam dibandingkan kompres air dingin.
Jangan mengompres dengan alkohol karena khawatir keracunan. Bila demam masih
berlanjut dan bertambah tinggi segera bawa bayi ke dokter.

*9. Bayi sering buang air besar*
Bayi yang memperoleh ASI awalnya fesesnya cenderung agak cair dan seperti
berbiji-biji. Frekuensinya pun bisa 4-6 kali sehari. Namun, pada usia 1-2
bulan, frekuensinya bisa berkurang hingga 4-6 hari sekali. Tidak perlu
khawatir akan kondisi tersebut selama bayi tetap tenang, tidak rewel, perut
tidak kembung, tidak muntah terus-menerus, dan feses tidak keras. Kondisi
ini dikarenakan ASI lebih banyak diserap usus dan perlu waktu lebih lama
untuk dikeluarkan sebagai feses.
Feses bayi usia 2-3 bulan akan mulai berampas. Baru pada usia di atas 4
bulan, feses mulai berbentuk. Yang penting, tambah Dr. Caroline, feses bayi
tidak berubah bentuk menjadi cair tanpa ampas atau disertai darah. Bila ini
yang terjadi, bayi harus segera dibawa ke dokter. Begitu pula bila bayi
tidak BAB lebih dari 6 hari.

*10. Perhatikan hal-hal kecil*
Di usia dua bulan, bayi bisa merespon dengan baik saat diajak bicara oleh
ibu atau ayahnya. Di usia tiga bulan, saat kedua tangan bayi diangkat secara
perlahan hingga badan ikut terangkat, lehernya harus ikut terangkat. “Bila
leher bayi tidak ikut terangkat sudah harus dicurigai adanya
ketidaknormalan,” ujar Dr. Hardiono. Pada usia tiga bulan bayi sudah tidak
mengepal tangan. Bila di usia 4 bulan tangan bayi masih mengepal, 90 persen
mengindikasikan adanya masalah.
Gejala klasik autis juga bisa dilihat dari hal-hal kecil. Contohnya, bayi
tidak merespon saat diajak bicara, suka memukul-mukul kepala, ukuran kepala
cenderung lebih besar, batita membalik mobil-mobilan lalu memutar ban hingga
berkali-kali, dan asyik dengan dunianya sendiri. Autis terjadi karena
kurangnya serotonin yang merupakan neurotransmitter pada otak. Bila
diketahui dan diterapi sejak dini, di bawah usia 2 tahun, hasilnya akan
baik. Akan lebih sulit bila baru diketahui pada usia 5 tahun, karena sel
saraf sudah tidak tumbuh lagi.

*11. Berat badan harus naik*
Bayi harus dipantau berat badan, tinggi badan, serta lingkar kepala. Hasil
pantauan tersebut bisa dibandingkan dengan saudara sekandung pada usia yang
sama atau anak lain yang sebaya. Bayi yang tetap kurus tidak perlu
dikhawatirkan selama berat badannya terus naik. Mungkin saja posturnya
memang kecil. Akan menjadi masalah bila berat badan bayi tidak naik dan
memotong dua garis persentil dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Itu bisa
menjadi indikasi adanya masalah atau penyakit yang diderita bayi, misalnya
kondisi kurang gizi.

*12. Tak selalu harus ke dokter*
Orangtua, dikatakan Dr. Hardiono, sering membawa bayi ke dokter saat
mengalami penyakit ringan. Bayi batuk, pilek, atau diare ringan, tidak harus
dibawa ke dokter. “Karena 60-80 persen sakit yang terjadi pada bayi maupun
anak-anak bisa sembuh. Juga tak harus selalu diobati dengan antibiotik bila
hanya sakit batuk-pilek biasa,” katanya.

*13. Imunisasi sesuai jadwal*
Imunisasi diperlukan untuk memberikan kekebalan bagi bayi. Dengan imunisasi,
2,7 persen kematian per tahunnya bisa dicegah. Beberapa penyakit penting
dapat dicegah lewat imunisasi seperti difteri, pertusis, tetanus, polio,
meningitis, pneumonia, Hib, serta hepatitis. Sejauh ini, dikatakan Dr.
Hardiono, pneumonia menjadi penyebab kematian anak terbanyak di dunia,
diikuti AIDS, diare, TBC, malaria, dan campak.
Vaksin dasar yang diberikan kepada bayi adalah DPT, polio, hepatitis, Hib,
campak, dan BCG. Rentang waktu vaksinasi adalah dua bulan karena lebih
meningkatkan kekebalan. Efek dari vaksin dasar seperti demam tinggi, kejang,
bengkak maupun syok, masih menjadi sumber kekhawatiran orangtua.

Saat ini sudah ada vaksin kombinasi 5 in 1 yaitu difteri, pertusis, tetanus,
polio, dan Hib. Vaksin kombinasi mengurangi suntikan pada bayi. Dengan
vaksin kombinasi bayi jarang demam, kalaupun demam tidak terlalu tinggi,
jarang bengkak, dan kejang pun berkurang. Tak perlu khawatir, vaksin baru
saat ini sudah tidak mengandung merkuri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: